Hubabah Zahra binti Hafidz Al-Haddar

Senin 21 sya’ban 1436H, selepas solat asar bersama Al-Habib Ali Masyhur bin Hafidz dan Habib Umar kami menghadiri solat jenazah di jabanah Tarim (tempat biasa solat jenazah), kemudian seperti biasa setiap hari senin sore Habib Ali Masyhur membuka tasjil nasab bani alawi di murobba’ (zawiyah)Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur, akan tetapi tidak seperti biasanya beliau masuk dulu kerumah dan menyuruh kami menunggu di murobba’, sudah hampir 30 menit Habib Masyhur tak datang juga, saya tau Habib tidak pernah terlambat di majils-majlis kecuali ada yang membuat beliau terlambat, saya mencoba untuk menghubungi orang rumah dan mengatakan Habib Masyhur hari ini tidak dapat jalsah nasab. Seperti biasa juga sore senin malam selasa ba’da magrib Habib Ali Masyhur membuat dares di masjid jami’ Tarim, 15 menit sebelum magrib Habib keluar rumah dari pintu biasanya dan mengatakan “Hari ini tidak bisa jalsah karena Aku menemani Walidah (Hubabah Zahra) lagi kurang sehat”, sebelum masuk mobil Habib Masyhur di panggil lagi oleh Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Sumaith (salah seorang cucu Hubabah), karena Hubabah mencarinya dan beliau bergegas masuk kembali, saya tetap menunggu namun sampai azan magrib Habib Masyhur tak keluar, hati terasa tak nyaman, terdengar suara tangisan hingga dibawah rumah, cuaca kota Tarim menjelang magrib terasa sedih, dan kabar duka Sang Hubabah telah meninggalkan kami..

Sebelum meninggal Hubabah telah berpesan kepada Habib Ali Masyhur untuk dimakamkan di samping ayahnya, dan akhirnya Habib Masyhur juga Habib Umar meninjau tempat yang dikatakan Hubabah di pemakaman Zambal, setelah memanggil tukang gali kubur dan Habib Masyhur sendiri yang menanyakan kepada tukang gali tersebut “Apa di sini bisa jadi sebuah kubur?” Ia menjawab tegas “Bisa”. Sudah berapa kali tukang gali yang sama ditanya ditempat yang sama dan baru kali ini ia menyanggupi menggali di tempat tersebut, setelah menggali sekitar 1meter ditemukan sebuah nisan yang cukup tua, dan setelah dicuci tertulis nisan Syarifah Fatimah binti Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf (abad ke-9 hijri). Subhanallah ternyata tempat ini sudah beratus-ratus tahun tak pernah digali dan selalu gagal dengan alasan sempit, namun kali ini mungkin bagi penggali terlihat lebar karena sudah menunggu sang Hubabah di samping sang Ayah.

 

Sy.Usamah bin Zaed BSA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s